WINA'S ZONE

PUISI WINA

HOME | Journal | Novel | NEW KUMCER | kORESPONDENCE | ARTICLE PAGE | PSIKOLOGIS | PUISI WINA | OPINI | GALERY PHOTO | SEBUAH KEPUTUSAN & TIRAI KASIH IBU | DI GERBANG PERNIKAHAN | KUMCER | ABOUT WINA | KONTAK

Bukan Perempuan Biasa



mereka bilang

aku bukan perempuan bias

aku adalah perempuan berbisa

menyemburkan racun kehidupan

menebarkan bau kemunafikan



aku

aku hidup di antara puing - puing rumah tua

terjejal, berdesakan dengan reruntuhannya

kadang terhempas keselokan lumpur

berbaur limbah dan lintah

tersungkur

hancur




aku

berharap terentas

tengadah

embun suci

dapatkah sejukkan gersang jiwaku

dan sekerdip cahaya di kelam sunyi

akankah mampu menerangi jalanku

dengan langkah tertatih

aku ingin menggapai-Mu


by Wina Karni







Daun

 

Akankah kau biarkan daun itu luruh..?

jatuh...

lalu angin menghempaskannya terbang..?

dan tak pernah kembali padamu..?

 

Akankah kau biarkan daun-daun itu kering?

Menggersang

kemudian api menjilatinya

tinggalah abu

dan angin akan membawanya terbang...

 

bawalah air bening di telagamu, kasih

bila kau tak punya, beri setetes embun itu

agar aku tetap merekat di akar-akarmu

membuat tubuhmu indah oleh hijauku

 

inilah ekstensi yang kubangun

dianya tak kan pernah mati

oleh    pedang yang kau hunus

mengapa..?

jawabnya satu

aku adalah wanita

perermpuan

 

Pedangmu pedang kekonyolan

tidak lucu

bahkan aku ngakak karena ulahmu

tubuhku tak akan berdarah

 

kujadikan  kehadiranmu sebagai loncatan

karena bagiku kau adalah batu

atau buaya berjenis perempuan

dan aku aaadalah kancilnya

Sajak semalam

By: Wina     Karnie

 

seperti sajak semalam

aku menggeliat dilekukan bulan

gemintang bersorak ceria

angin hembuskan setumpuk aroma

menyapu gumpalan awan

 

alam itu jauh disana

di negeri impian

dibalik mega dan bentangan arca pada

 

mimpi

sampai kapan kau puas tebar pesona

 

jika detik-detik waktu mampu bawaku bertemu matahari

hantar aku kesana

 

Muara Hati

hari ini aku berjalan ke muara sungai ....

ditepian yang penuh dengan kerikil dan bebatuan kadang kakiku terantuk,

walau tak sempat jatuh..dan aku terus berjalan....

 
suara gemersik dedaunan dari pohon-pohon
membimbingku ke satu arah  muara
yah... muara yang selama ini kucari...
rupanya dia tengah sembunyi...
 
 
kaukah muara hatiku itu...?
tempatku berlabuh kasih
sandaranku kala kulelah
pijakanku terakhir dalam pencarian..
 
 
adakah muara lain di ujung sana...?
yang menantiku dengan sungguh...?
tidak bukan...?
Engkaulah muara hatiku itu, Tuhan...
Engkaulah Yang Maha Pemurah dan Maha Penyayang....
Ku datang tuk menggapai kasih dan ridlo-Mu
Smoga Kau berkenan dengan perjalanan...
hidupku yang tertatih - tatih.....antara gelap dan terang....
Bimbinglah setiap langkahku agar bisa bermuara...ke samudera maaf-Mu. Amin
 

 

 

Pada sebuah janji (2)
 
langit mendung hari ini
bukanlah pertanda bahwa hujan ada disana
karena laut masih tampak segar dengan deru ombaknya
sepasang camar masih bermain-main diatasnya
kidung alam bersuarakan bait-bait cintanya
masih merdu dan sahdu di gendang karang
dan aku dengan segenap asaku
berlarian
berkejaran
berggulingan
dengan debu-debu di pesisir pantaimu
aku akan kembali padamu
aku akan pulang 
pulang...

Enter content here

Enter supporting content here