WINA'S ZONE

ARTICLE PAGE

HOME | Journal | Novel | NEW KUMCER | kORESPONDENCE | ARTICLE PAGE | PSIKOLOGIS | PUISI WINA | OPINI | GALERY PHOTO | SEBUAH KEPUTUSAN & TIRAI KASIH IBU | DI GERBANG PERNIKAHAN | KUMCER | ABOUT WINA | KONTAK

1. Evaluasi Media

2. Biografi Shalahudin Alayubi

Evaluasi Media
By Wina Karni
Banyak media berkembang di era sekarang, baik berbentuk koran, majalah, buku, televise, dan internet. Semuanya sangat besar pengaruhnya bagi peradaban manusia. Di negara Hongkong misalnya, telivisi sudah menjadi  kebutuhan primer setiap individu, berbeda dengan di negara kita yang menempatkan televisi sebagai kebutuhan sekunder.
Lalu langkah bijak apa yang harus kita ambil dengan perkembangan media yang langsung maupun tidak langsung jelas mempengaruhi peradapan manusia itu. Apakah kita harus menelan mentah-mentah segala bentuk suguhan media tersebut, tentunya tidak bukan?
Ketika kita dihadapkan pada suguhan di telivisi. Bagi individu ataupun masyarakat yang kurang memahami sejauh mana pengaruh media televisi, menganggapnya itu suatu hal yang wajar. Maka yang terjadi adalah masyarakat pertelevisian. Gaya hidup mereka cenderung ditingkahi oleh sesuatu yang mereka konsumsi. Di media tulis-menulis pun tak jauh berbeda. Mereka yang mengkonsumsi bacaan sastra tujuh puluhan misalnya, gaya mereka berpuisipun tak akan jauh berbeda dengan itu, kecuali mereka memang mempunyai karakter.
Dari sinilah penulis ingin merambah pola pikir masyarakat supaya bisa evaluasi terhadap media.
Jadilah pengamat
Dalam hal ini kita dituntut untuk pintar, cerdik, dan cermat terhadap diri kita. Siapa yang mau menelan buah durian secara mentah-mentah. Tidak ada bukan? Apa yang kita lihat bukan berarti harus kita telan mentah-mentah. Apa yang kita dengarpun selayaknya kita saring dulu di otak, apakah itu rasional, logis, atau tidaknya untuk dijadikan bahan pemikiran. Contahnya: bila kita menonton suatu produk iklan shampo, jangan hanya berpatok pada rambut indah lurus milik seorang artis cantik kesayangan kita. Apakah anda telah tau bagaimana proses pembuatan itu. Jadi teliti, dan sikapi dengan akal sehat kita. Perlu tidak saya membeli produk tersebut. Cukup tidak uang saya untuk mengkonsumsi produk tersebut. Cocok tidak shampoo itu untuk jenis rambut saya? Karena apa. Rambut lurus dalam iklan tersebut, bisa jadi hanyalah rambut palsu yang sengaja dipakaikan ke artis itu. Dan kemilau indah pada rambut itupun hanyalah rekayasa dari lampu yang memang telah di set secara professional oleh para kru, saat di lokasi syuting. Jadi langkah awal merespon suatu suguhan, jadilah seorang pengamat.  
 2.  Belajar bijaksana
Ini yang susah, manusia cenderung menggunakan egonya daripada rasionya. Apalagi bila hal itu dilandasi oleh sikap isme-isme yang berlebihan. Seperti kata pepatah, ‘gajah dipelupuk mata tidak kelihatan tapi semut di seberang lautan tampak.’ Bilamana yang terlihat di mata kita adalah semut dalam merespon suatu bentuk permasalahan sosial. Dalam konteks ini kita telah terseret pada suatu permasalahan baru.
Respek
Tanggap terhadap suguhan, baik itu berbentuk tulisan ataupun acara ditelivisi. Dari hasil yang kita lihat, baca dan dengarkan, kita harus respek. Dalam konteks ini sebagai konsumen kita harus pintar-pintar membawa diri. Karena apa, banyak dari konsumen terjebak pada suatu responitas yang hanya merugikan diri mereka sendiri.
Jangan terbawa emosi
Bukan rahasia umum lagi bahwa media besar pengaruhnya terhadap pola pikir individu. Tapi itupun tetap terpulang pada tingkat kecerdasan individu itu sendiri. Emosi merupakan suatu bentuk ekspresi dalam  penyikapan sesuatu. Mengapa semasa kecil kita sering mendengar nasehat dari para orang tua untuk selalu sabar. Para orang tua ini telah mengenal kita secara mendalam, bahkan sejak kita dalam kandungan. Lain dengan kita tentunya. Jadi semakin tinggi spiritual emosi seseorang, akan semakin bijak pengendalian dirinya. Dalam lingkup sosial misalnya, kita tidak perlu gerah ketika orang lain berpersepsi negative terhadap suatu kelompok kecil dalam komunitas besar. Ibaratnya api, semakin tersulut maka akan semakin besar kobarannya. Dan tentu, kita yang berada diantaranya yang akan terbakar, andaipun tidak, komunitas itupun akan tercerai-berai karena lari menyelamatkan diri masing-masing. Jadi tanggapilah suatu bentuk permasalahan itu dengan dingin dan damai.. Dan satu hal sering tidak kita sadari, saat seseorang merangkul, padahal hendak memukul.
Pandai membawa diri
Sebagai penikmat media bila kita tidak pandai-pandai membawa diri, maka jangan menyalahkan media, jika suatu saat gaya hidup anda telah terseret pada pola artis yang anda tonton, ataupun pemikiran-pemikiran dalam suatu tulisan yang anda simak. Percaya diri dan bentengilah diri kita dari pengaruh luar. Seperti banyak kasus yang kita lihat di dunia sekarang. Betapapun maraknya media yang dijadikan oleh suatu golongan atau individu untuk kepentingan mereka pribadi. Sebagai penikmat media kita harus paham mana yang berguna dan mana yang tidak sesuai dengan jalan hidup kita.
 

Biografi Salahuddin Al-Ayyubi 
Petikan dari Abul Hassan Ali Nadwai
Judul asli : Saviors of Islamic Spirit.

Salahuddin dibesarkan sama seperti anak-anak orang
Kurd biasa. Pendidikannya juga seperti orang lain,
belajar ilmu-ilmu sains di samping seni peperangan dan
mempertahankan diri. Tiada seorangpun yang menyangka
sebelum ia menguasai Mesir dan menentang tentera Salib
bahawa anak Kurd ini suatu hari nanti akan merampas
kembali Palestin dan menjadi pembela akidah Islamiah
yang hebat. Dan tiada siapa yang
menyangka pencapaiannya demikian hebat sehingga
menjadi contoh dan perangsang memerangi kekufuran
hingga ke hari ini.
Stanley Lane Poole (1914) seorang penulis Barat
menyifatkan Salahuddin sebagai anak seorang governor
yang memilliki kelebihan daripada orang lain tetapi
tidak menunjukkan satupun tanda-tanda ia akan menjadi
orang hebat pada masa depan. Akan tetapi ia
menunjukkan akhlak yang mulia.
Walau bagaimanapun Allah telah mentakdirkannya untuk
menjadi pemimpin besar pada zamannya dan Allah telah
menyediakan dan memudahkan jalan-jalannya untuk
menjadi pemimpin agung itu. Ketika ia menjadi tentera
Al-Malik Nuruddin, sultan Aleppo, ia diperintahkan
untuk pergi ke Mesir. Pada masa itu Mesir diperintah
oleh sebuah kerajaan Syi'ah yang tidak bernaung di
bawah khalifah. Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama
Salahuddin telah menulis bahawa Salahuddin sangat
berat dan memaksa diri untuk pergi ke Mesir bagaikan
orang yang hendak di bawa ke tempat
pembunuhan (Bahauddin, 1234).
Tetapi itulah sebenarnya apa yang dimaksudkan dengan
firman Allah, "Boleh jadi kamu membenci sesuatu,
padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu
menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu"
(Al-Baqarah:216)
Pertukaran Hidup Salahuddin al Ayubi
Ketika Salahuddin menguasai Mesir, ia tiba-tiba
berubah. Ia yakin bahawa Allah telah mempertanggung
jawabkan kepadanya satu tugas yang amat berat yang tak
mungkin dapat dilaksanakan jika ia tidak
bersungguh-sungguh. Bahauddin telah menuliskan dalam
catatannya bahwa Salahuddin sebaik-baik sahaja ia
menjadi pemerintah Mesir. Dunia dan kesenangannya
telah lenyap dari pandangan matanya. Dengan hati yang
rendah dan syukur kepada Allah ia telah menolak
godaan-godaan dunia dan segala kesenangannya
(Bahauddin,1234).
Bahkan Stanley Lane Poole(1914) telah menuliskan bahwa
Salahuddin mengubah cara hidupnya kepada yang lebih
keras. Ia bertambah wara' dan menjalani hidup yang
lebih berdisiplin dan sederhana. Ia mengenepikan
corak hidup senang dan memilih corak hidup "Spartan"
yang menjadi contoh kepada tenteranya. Ia menumpukan
seluruh tenaganya untuk satu tujuan yaitu untuk
membina kekuasaan Islam yang cukup kuat untuk
menghalau orang kafir dari tanah air Islam.
Salahuddin pernah berkata, "Ketika Allah menganugerah
kan aku bumi Mesir, aku yakin Dia juga bermaksud
Palestin untukku. Ini menyebabkan ia memenangkan
perjuangan Islam. Sehubungan dengan ia telah
menyerahkan dirinya untuk jalan jihad.
Semangat Jihadnya
Fikiran Salahuddin sentiasa tertumpu kepada jihad di
jalan Allah. Bahauddin telah mencatatkan bahawa
semangat Salahuddin yang berkobar-kobar untuk berjihad
menentang tentera Salib telah menyebabkan jihad
menjadi tajuk perbincangan yang paling digemarinya. Ia
sentiasa meluangkan seluruh tenaganya untuk memperkuat
pasukan tenteranya, mencari
mujahid-mujahid dan senjata untuk tujuan berjihad.
Jika ada sesiapa yang bercakap kepadanya berkenaan
jihad ia akan memberikan sepenuh perhatian.
Sehubungan dengan ini ia lebih banyak di dalam khemah
perang daripada duduk di istana bersama sanak
keluarga. Siapa sahaja yang menggalakkannya berjihad
akan mendapat kepercayaannya. Siapa sahaja yang
memerhatikannya akan dapat melihat apabila ia
telah memulakan jihat melawan tentera salib ia akan
menumpahkan seluruh perhatiannya kepada persiapan
perang dan menaikkan semangat tenteranya.
Dalam medan peperangan ia bagaikan seorang ibu yang
garang kehilangan anak tunggal akibat dibunuh oleh
tangan jahat. Ia akan bergerak dari satu hujung medan
peperangan ke hujung yang lain untuk mengingatkan
tenteranya supaya benar-benar berjihad di jalan Allah
semata-mata. Ia juga akan pergi ke seluruh pelosok
tanah air dengan mata yang berlinang mengajak manusia
supaya bangkit membela Islam.
Ketika ia mengepung Acre ia hanya minum, itupun
selepas dipaksa oleh doktor peribadinya tanpa makan.
Doktor itu berkata bahawa Salahuddin hanya makan
beberapa suap makanan semenjak hari Jumaat hingga
senin kerena ia tidak mahu perhatiannya kepada
peperangan terganggu. (Bahauddin, 1234)
Peperangan Hittin
Satu siri peperangan yang sengit telah berlaku antara
tentera Salahuddin dengan tentera Salib di kawasan
Tiberias di kaki bukit Hittin. Akhirnya pada 24
Rabiul-Akhir, 583 H, tentera Salib telah kalah. Dalam
peperangan ini Raja Kristian yang memerintah Palestin
telah dapat di tawan beserta adiknya Reginald dari
Chatillon. Pembesar-pembesar lain yang dapat ditawan
ialah Joscelin dari Courtenay, Humphrey dari Toron
dan beberapa orang ternama yang lain. Ramai juga
tentera-tentera Salib berpangkat tinggi telah
tertawan. Stanley Lane-Poole menceritakan bahwa dapat
dilihat seorang tentera Islam telah membawa 30 orang
tentera Kristian yang ditawannya sendiri diikat dengan
tali khemah.
Mayat-mayat tentera Kristian bertimbun-timbun seperti
batu di atas batu di antara salib-salib yang patah,
potongan tangan dan kaki dan kepala-kepala manusia
berguling seperti buah tembikai. Dianggarkan 30,000
tentera Kristian telah mati dalam peperangan ini.
Setahun selepas peperangan, timbunan tulang dapat
dilihat memutih dari jauh.
Kecintaan Salahuddin kepada Islam
Peperangan Hittin telah menyerlahkan kecintaan
Salahuddin kepada Islam. Stanley Lane-Poole menulis
bahawa Salahuddin berkhemah di medan peperangan semasa
peperanggan Hittin. Pada satu ketika setelah
khemahnya didirikan diperintahkannya tawanan perang
dibawa ke hadapannya. Maka dibawalah Raja Palestin dan
Reginald dari Chatillon masuk ke khemahnya.
Dipersilakan sang Raja duduk di dekatnya.
Kemudian ia bangun pergi ke hadapan Reginald lalu
berkata, "Dua kali aku telah bersumpah untuk membunuh
nya. Pertama ketika ia bersumpah akan melanggar dua
kota suci dan kedua ketika ia menyerang jamaah haji.
Ketahuilah aku akan menuntut bela Muhammad saw
atasnya". Lalu ia menghunuskan pedangnya dan memenggal
kepala Reginald. Mayatnya kemudian dibawa keluar oleh
pengawal dari khemah.
Raja Palestin apabila melihat adiknya dipancung, ia
mengeletar kerana menyangka gilirannya akan tiba.
Tetapi Salahuddin menjamin tidak akan
mengapa-apakannya sambil berkata, "Bukanlah kelaziman
seorang raja membunuh raja yang lain, tetapi orang itu
telah melanggar segala batas-batas, jadi terjadilah
apa yang telah terjadi".
Tindakan Salahuddin adalah disebabkan kebiadaban
Reginald kepada Islam dan Nabi Muhammad saw. Bahauddin
bin Shaddad, penasihat kepercayaan
Salahuddin mencatatkan bila jamaah haji dari Palestin
diserang dicederakan tanpa belas kasihan oleh
Reginald, di antara tawanannya merayu supaya mereka
dikasihani. Tetapi Reginald dengan angkuhnya
mengatakan, "Mintalah kepada Nabi kamu, Muhammad,
untuk menyelematkan kamu". Ketika ia mendengar berita
ini ia telah berjanji akan membunuh Reginald dengan
tangannya sendiri apabila ia dapat menangkapnya.
Menawan Baitul Muqaddis
Kemenangan peperangan Hittin telah membuka jalan mudah
kepada Salahuddin untuk menawan Baitul Muqaddis.
Bahauddin telah mencatatkan bahawa Salahuddin
sangat-sangat berhajat untuk menawan baitul Muqaddis
hinggakan bukitpun akan mengecut dari bebanan yang
dibawa di dalam hatinya. Pada hari jumaat, 27 Rajab,
583H, iaitu pada hari Isra' Mi'raj,
Salahuddin telah memasuki banda suci tempat Rasulullah
saw. naik ke langit.
Dalam catatan Bahauddin ia menyatakan inilah kemengan
atas kemengang. Ramai orang yang terdiri dari ulama,
pembesar-pembesar, peniaga dan orang-orang biasa
datang merayakan gembira kemenangan ini. Kemudiannya
ramai lagi orang datang dari pantai dan hampir semua
ulama-ulama dari Mesir dan Syria datang untuk
mengucapkan tahniah kepada Salahuddin. Boleh
dikatakan hampir semua pembesar-pembesar datang.
Laungan "Allahhu Akbar" dan "Tiada tuhan melainkan
Allah" telah memenuhi langit.
Selepas 90 tahun kini sembahyang Jumaat telah diadakan
semula di Baitul Muqaddid. Salib yang terpampang di
'Dome of Rock' telah diturunkan. Betapa
hebatnya peristiwa ini tidak dapat digambarkan. Hanya
Allah sahaja yang tahu betapa hebatnya hari itu.
Salahuddin yang Penyayang
Sifat penyayang dan belas kasihan Salahuddin semasa
peperangan ini sangat jauh berbeda daripada kekejaman
musuh Kristiannya. Ahli sejarah Kristian pun mengakui
hal ini. Lane-Poole mengesahkan bahwa kebaikan
hati Salahuddin telah mencegahnya daripada membalas
dendam. Ia telah menuliskan yang Salahuddin telah
menunjukkan ketiggian akhlaknya ketika orang-orang
Kristian menyerah kalah. Tenteranya sangat bertanggung
jawab, menjaga peraturan di setiap jalan, mencegah
segala bentuk kekerasan hinggakan tiada kedengaran
orang-orang Kristian diperlakukan tidak baik.
Semua jalan keluar-masuk ke Baitul Muqaddis di
tangannya dan seorang yang amanah telah dilantik di
pintu Nabi Daud untuk menerima wang tebusan daripada
orang-orang Kristian yang ditawan. Lane-Poole juga
telah menuliskan bahawa Salahuddin telah mengatakan
kepada pegawainya, "Adikku telah membuat infak, Padri
besar pun telah benderma. Sekarang giliranku pula".
Lalu ia memerintahkan pegawainya mewartakan di
jalan-jalan Jerusalem bahawa sesiapa yang tidak mampu
membayar tebusan boleh dibebaskan. Maka
berbondong-bondonglah orang keluar dari pintu St.
Lazarus dari pagi hingga ke malam. Ini merupakan
sedekah Salahuddin kepada orang miskin tanpa
menghitung bilangan mereka.
Selanjutnya Lane-Poole menuliskan bagaimana pula
tindak-tanduk tentera Kristian ketika menawan Baitul
Muqaddis kali pertama pada tahun 1099. Telah tercatat
dalam sejarah bahawa ketika Godfrey dan Tancred
menunggang kuda di jalan-jalan Jerusalem jalan-jalan
itu 'tersumbat' dengan mayat-mayat, orang-orang Islam
yang tidak bersenjata disiksa, dibakar dan dipanah
dari jarak dekat di atas bumbung dan menara
rumah-rumah ibadah. Darah yang membasahi bumi yang
mengalir dari pembunuhan orang-orang Islam secara
beramai-ramai telah mencermarkan kesucian gereja di
mana
sebelumnya kasih sayang sentiasa diajarkan. Maka
sangat bernasip baik orang-orang Kristian apabila
mereka dilayan dengan baik oleh Salahuddin.
Lane-Poole juga menuliskan, jika hanya penaklukan
Jerusalem sahaja yang diketahui mengenai Salahuddin,
maka ia sudah cukup membuktikan dialah seorang
penakluk yang paling penyantun dan baik hati di
zamannya bahkan mungkin di sepanjang zaman.
Perang Salib Ketiga
Perang Salib pertama ialah kejatuhan Palestin kepada
orang-orang Kristian pada tahun 1099 (490H) manakala
yang kedua telah dimenangi oleh Salahuddin dalam
peperangan Hittin pada tahun 583H (1187M) di mana
beberapa hari kemudian ia telah menawan Baitul
Muqaddis tanpa perlawanan. Kekalahan tentera Kristian
ini telah menggegarkan seluruh dunia Kristian. Maka
bantuan dari Eropah telah dicurahkan ke bumi Palestin
Hampir semua raja dan panglima perang dari dunia
Kristian seperti Fredrick Barbossa raja Jerman,
Richard The Lion raja England, Philips Augustus raja
Perancis, Leopold dari Austria, Duke of Burgundy dan
Count of Flanders telah bersekutu menyerang Salahuddin
yang hanya dibantu oleh beberapa pembesar nya dan
saudara maranya serta tentaranya untuk mempertahankan
kehormatan Islam. Berkat pertolongan Allah mereka
tidak dapat dikalahkan oleh tentera bersekutu yang
besar itu.
Peperangan ini berlanjutan selama 5 tahun hingga
menyebabkan kedua belah pihak menjadi lesu dan jemu.
Akhirnya kedua belah pihak bersetuju untuk memuat
perjanjian di Ramla pada tahun 588H. Perjanjian ini
mengakui Salahuddin adalah pengusa Palestin seluruhnya
kecuali bandar Acra diletakkan di bawah pemerintahan
Kristian. Maka berakhirlah peperangan
Salib ketiga.
Lane-Poole telah mencatatkan perjanjian ini sebagai
berakhirnya Perang Suci yang telah berlajutan selama 5
tahun. Sebelum kemenangan besar Hittin pada bulan
Julai, 1187 M, tiada satu inci pun tanah Palestin di
dalam tangan orang-orang Islam. Selepas Perjanjian
Ramla pada bulan September, 1192 M, keseluruhanya
menjadi milik mereka kecuali satu jalur kecil dari
Tyre ke Jaffa. Salahuddin tidak ada rasa malu apapun
dengan perjanjian ini walaupun sebahagian kecil tanah
Palestin masih di tangan orang-orang Kristian.
Atas seruan Pope, seluruh dunia Kristian telah
mengangkat senjata. Raja England, Perancis, Sicily dan
Austria serta Duke of Burgundy, Count of Flanders dan
beratus-ratus lagi pembesar-pembesar telah bersekutu
membantu Raja dan Putra Mahkota Palestin untuk
mengembalikan kerajaan Jerusalem kepada pemerintahan
Kristian. Walau bagaimanapun ada raja yang mati dan
ada yang balik dan sebahagian
pembesar-pembesar Kristian telah terkubur di Tanah
Suci itu, tetapi Tanah Suci itu masih di dalam tangan
Salahuddin.
Selanjutnya Lane-Poole mencatatkan, seluruh kekuatan
dunia Kritian yang telah ditumpukan dalam peperangan
Salib ketiga tidak mengoyangkan kekuatan Salahuddin.
Tenteranya mungkin telah jemu dengan peperangan
yang menyusahkan itu tetapi mereka tidak pernah undur
apabila diseru untuk menjualkan jiwa raga mereka di
jalan Tuhan. Tenteranya yang berada jauh di lembah
Tigirs di Iraq mengeluh dengan tugas yang tidak
henti-henti, tetapi ketaatan meraka yang tidak pernah
berbelah bagi.
Bahkan dalam peperangan Arsuf, tenteranya dari Mosil
(sebuah tempat di Iraq) telah menunjukkan ketangkasan
yang hebat. Dalam peperangan ini, Salahuddin memang
boleh memberikan kepercayaan kepada tentra-tenteranya
dari Mesir, Mesopotamia, Syria, Kurds, Turkmans, tanah
Arab dan bahkan orang-orang Islam dari mana-mana
sahaja. Walaupun mereka berlainan bangsa dan
kaum tetapi Salahuddin telah dapat menyatukan mereka
di atas jalan Tuhan dari pada mula peperangan pada
tahun 1187 hinggalah berakhirnya pada tahun 1192.
Lane-Poole juga menuliskan dalam peperangan ini
Salahuddin sentiasa syura. Ia mempunyai majlis syura
(musyawarah)yang membuat keputusan-keputusan
ketenteraan. Kadang-kadang majlis ini membatalkan
keputusan Salahuddin sendiri. Dalam majlis ini tiada
siapa yang mempunyai suara lebih berat tiada siapa
yang lebih mempengaruhi fikiran Salahuddin. Semuanya
sama sahaja. Dalam majlis itu ada adiknya,
anak-anaknya, anak saudaranya, sahabat-sahabat
lamanya, pembesar-pembesar tentera, kadi, bendahari
dan
setiausaha. Semuanya mempunyai sumbangan yang sama
banyak dalam membuat keputusan. Pendeknya semuanya
menyumbang dalam kepakaran masing-masing. Walau apa
pun perbincangan dan perdebatan dalam majlis itu,
mereka memberikan ketaatan mereka kepada Salahuddin.
Wafatnya Salahuddin
Pada hari Rabu, 27 Safar, 589H, pulanglah Salahuddin
ke rahmatullah selepas berhempas pulas mengembalikan
tanah air Islam pada usia 57 tahun. Bahauddin bin
Shaddad, penasihat utama Salahuddin telah menulis
mengenai hari-hari terakhir Salahuddin. Pada malam 27
Safar, 12 hari selepas ia jatuh sakit, ia telah
menjadi sangat lemah. Syeikh Abu Ja'afar seorang yang
wara' telah diminta menemani Salahuddin di Istana
supaya jika ia nazak, bacaan Qur'an dan syahadah boleh
diperdengarkan kepadanya.
Memang pada malam itu telah nampak tanda-tanda
berakhirnya hayat Salahuddin. Syeikh Abu Jaafar telah
duduk di tepi katilnya semenjak 3 hari yang lepas
membacakan Qur'an. Dalam masa ini Salahuddin selalu
pingsan dan sedar sebentar. Apabila Syeikh Au Jaafar
membacakan ayat, "Dialah Allah, tiada tuhan melainkan
Dia, Yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata"
(Al-Hasyr: 22), Salahuddin membuka matanya sambil
senyum, mukanya berseri dan denga nada yang gembira ia
berkata, "Memang benar". Selepas ia mengucapkan
kata-kata itu rohnya pun kembali ke rahmatullah. Masa
ini ialah sebelum subuh, 27 Safar.
Seterusnya Bahauddin menceritakan Salahuddin tidak
meninggalkan harta kecuali satu dinar dan 47 dirham
ketika ia wafat. Tiada rumah-rumah, barang-barang,
tanah, kebun dan harta-harta lain yang ditinggalkan
nya. Bahkan harta yang ditinggalkannya tidak cukup
untuk ongkos pengkebumiannya. Keluarganya terpaksa
meminjam wang untuk menanggung ongkos pengkebumian
ini. Bahkan kain kafan pun diberikan oleh seorang
menterinya.
Salahuddin yang Wara'
Bahauddin bin Shaddad, penasihat utama Salahuddin
telah mencatatkan berkenaan kewarakan Salahuddin. Satu
hari ia berkata bahawa ia telah lama tidak pergi
sembahyang berjemaah. Ia memang suka sembahyang
berjemaah, bahkan ketika sakitnya ia akan memaksa
dirinya berdiri di belakang imam. Disebabkan
sembahyang adalah ibadah utama yang diasaskan oleh
Rasulullah saw, ia sentiasa mengerjakan sembahyang
sunnat malam. Jika disebabkan hal tertentu ia tidak
dapat sembahyang mala, ia akan menunaikannya ketika
hampir subuh. Bahauddin melihatnya sentiasa sembahyang
di belakang imam ketika sakitnya, kecuali tiga
terakhir di mana ia telah tersangat lemah dan selalu
pingsan.
Tetapi ia tidak pernah tinggal sembahyang fardhu. Ia
tidak pernah membayar zakat kerana ia tidak mempunyai
harta yang cukup nisab. Ia sangat murah hati dan akan
menyedekahkah apa yang ada padanya kepada fakir miskin
dan kepada yang memerlukan hinggakan ketika wafatnya
ia hanya memiliki 47 dirham wang perak dan satu dinar
wang emas. Ia tidak meninggalkan harta.
Bahauddin juga mencatatkan bahawa Salahuddin tidak
pernah meninggalkan puasa Ramadhan kecuali hanya
sekali apabila dinasihatkan oleh Kadi Fadhil. Ketika
sakitnya pun ia berpuasa sehinggalah doktor menasihat
kannya dengan keras supaya berbuka. Lalu ia berbuka
dengan hati yang berat sambil berkata, "Aku tak tahu
bila ajal akan menemuiku". Maka segera ia membayar
fidyah.
Dalam catatan Bahauddin juga menunjukkan Salahuddin
teringin sangat menunaikan haji ke Mekah tetapi ia
tidak pernah berkesempatan. Pada tahun kewatannya,
keinginannya menunaikan haji telah menjadi-jadi
tetapi ditakdirkan. Ia sangat gemar mendengar bacaan
Qur'an. Dalam medan peperangan ia acap kali duduk
mendegar bacaan Qur'an para pengawal yang dilawatnya
sehingga 3 atau 4 juzu' semalam. Ia mendengar dengan
sepenuh hati dan perhatian sehingga air matanya
membasahi dagunya.
Ia juga gemar mendengar bacaan hadis Rasulullah saw.
Ia akan memerintahkan orang-orang yang bersamanya
duduk apabila hadis dibacakan. Apabila ulama hadis
datang ke bandar, ia akan pergi mendengar kuliahnya.
Kadang kadang ia sendiri membacakan hadis dengan mata
yang berlinang. Dalam peperangan kadang-kadang ia
berhenti di antara musuh-musuh yang datang untuk
mendengarkan hadis-hadis dibacakan kepadanya.
Salahuddin sangat yakin dan percaya kepada pertolongan
Allah. Ia biasa meletakkan segala harapan nya kepada
Allah terutama ketika dalam kesusahan. Pada satu
ketika ia berada di Jerusalem yang pada masa itu
seolah-olah tidak dapat bertahan lagi daripada
kepungan tentera bersekutu Kristian. Walaupun keadaan
sangat terdesak ia enggan untuk meninggalkan kota suci
itu. Malam itu adalah malam Jumaat musim sejuk.
Bahaauddin mencatatkan, "Hanya aku dan Salahuddin
sahaja pada masa itu. Ia menghabis kan masa malam itu
dengan bersembahyang dan munajat.
Pada tengah malam saya minta supaya ia berehat tetapi
jawanya, "Ku fikir kau mengantuk. Pergilah tidur
sejenak". Bila hampis subuh akupun bangun dan pergi
mendapatkannya. Aku dapati ia sedang membasuh
tangannya. "Aku tidak tidur semalam" katanya. Selepas
sembahyang subuh aku berkata kepadanya, "Kau kena
munajat kepada Allah memohon pertolongan-Nya". Lalu ia
bertanya, "Apa yang perlu ku lakukan?"
Aku menjawab, Hari ini hari Jumaat. Engkau mandilah
sebelum pergi ke masjid Aqsa. Keluarkanlah infaq
dengan senyap-senyap. Apabila kau tiba di masjid,
sembahyanglah dua rakaat selepas azan di tempat
Rasulullah saw pernah sembahyang sebelum mi'raj
dahulu. Aku pernah membaca hadis doa yang dibuat di
tempat itu adalah mustajab. Oleh itu kau bermunajad
lah kepada Allah dengan ucapan "Ya Tuhanku, aku telah
kehabisan segala bekalanku. Kini aku mohon
pertolongan-Mu. Aku menyerahkan diriku kepada-Mu. Aku
yakin hanya Engkau sahaja yang boleh menolongku dalam
keadaan yang genting ini"
Aku mengatakan kepadanya, "Aku sangat berharap Allah
akan mengkabulkan doamu". Lalu Salahuddin melakukan
apa yang ku usulkan. Aku berada di sebelahnya ketika
dahinya mencecah bumi sambil menangis hingga air
matanya mambasahi janggutnya dan menitik ke tempat
sembahyang. Aku tidak tahu apa yang didoakannya tetapi
aku melihat tanda-tanda doanya dikabulkan sebelum hari
itu berakhir. Perbalahan berlaku di antara musuh-musuh
yang menatijahkan berita baik bagi kami beberapa hari
kemudian. Akhirnya mereka membuka khemah-khemah mereka
dan berangkat ke Ramla pada hari
Isnin pagi"
Perangai Salahuddin
Siapa yang rapat dengannya mengatakan ia adalah
seorang Islam yang taat kepada Allah, sangat peka
kepada keadilan, pemurah, lembut hati, sabar dan
tekun. Bahauddin bin bin Shaddad, penasihat utama
Salahuddin telah mencatatkan ia telah memberikan masa
untuk rakyat dua kali seminggu, iaitu pada hari Isnin
dan Selasa. Pada masa ini ia disertai oleh
pembesar-pembesar negara, ulama dan kadi. Semua orang
boleh berjumpa dengannya. Ia sendiri akan membacakan
aduan yang diterimanya dan mengucapkan untuk
dituliskan oleh juru tulis tindakan yang perlu diambil
dan
terus ditandatanganinya pada masa itu juga. Ia tidak
pernah membenarkan orang meninggalkannya selagi ia
belum menyempurnakan hajat orang itu. Dalam masa yang
sama ia sentiasa bertasbih kepada Allah.
Jika ada orang membuat aduan, ia akan mendegarkan
dengan teliti dan kemudian memberikan keputusannya.
Sauatu hari seorang lelaki telah membuat aduan
berkenaan Taqiuddin, anak saudaranya sendiri. Dengan
segera ia memanggil anak saudaranya itu dan meminta
penjelasan. Dalam ketika yang lain ada orang yang
membuat tuduhan kepada Salahuddin sendiri. Yang
memerlukan penyiasatan. Walaupun tuduhan orang itu
didapati tidak berasas, ia telah menghadiahkan orang
itu sehelai jubah dan beberapa pemberian yang lain.
Ia adalah seorang yang mulia dan baik hati, lemah
lembut, penyabar dan sangat benci kepada ketidak
adilan. Ia sentiasa mengabaikan kesilapan-kesilapan
pembantu-pembantu dan khadam-khadamnya. Jika mereka
melakukan kesilapan yang memanaskan hatinya, ia tidak
pernah menyebabkan kemarahannya menjatuhkan air muka
mereka. Pada suatu ketika ia pernah meminta air minum,
tetapi entah apa sebabnya air itu tidak diberikan
kepadanya. Ia meminta sehingga lima kali lalu berkata,
"Aku hampir mati kehausan". Ia kemudian meminum air
yang dibawakan kepadanya tanpa menunjukkan kemarahan.
Dalam ketika yang lain ia hendak mandi selepas
mengalami sakit yang agak lama. Didapatinya air yang
disediakan agak panas, lalu ia meminta air sejuk.
Sebanyak dua kali khadamnya menyebabkan air sejuk
terpercik kepadanya. Disebabkan ia belum benar-benar
sihat, ia merasa kesejukan tetapi ia hanya berkata
kepada khadamnya, "Katakan sajalah kalau kau tak suka
kepadaku". Lalu khadam itu cepat-cepat minta maaf dan
Salahuddin terus memaafkannya.
Bahauddin juga telah mencatatkan beberapa peristiwa
yang menunjukkan sifat pemurah dan baik hati
Salahuddin. Kadang-kadang kawasan yang baru ditawannya
pun diberikannya kepada pengikutnya. Satu ketika ia
telah berjaya menawan bandar 'Amad. Lalu seorang
perwira tentera, Qurrah Arslan, menyatakan
keinginannya untuk memerintah bandar itu. Dengan
senang hati ia memberikannya. Bahkan dalam beberapa
ketika ia menjualkan hartanya semata-mata untuk
membeli hadiah. Melihat betapa pemurahnya Salahuddin,
bendaharinya selalu merahsiakan baki wang simpanan
untuk digunakan semasa kecemasan.
Jika ia tahu, ia akan menyedekahkan khazanah negara
sehingga habis. Salahuddin pernah mengatakan ada orang
baginya wang dan debu sama sahaja. "Aku tahu", kata
Bahauddin, "Ia mengatakan dirinya". Salahuddin tidak
pernah membiarkan tetamunya meninggalkannya
tanpa hadiah atau sebarang bentuk pemberian tanda
penghargaan, walaupun tamunya itu seorang kafir. Raja
Saida pernah melawat Salahuddin dan ia menyambutnya
dengan tangat terbuka, melayannya dengan hormat dan
mengambil kesempatan menerangkan Islam. Bahkan
Salahuddin sentiasa mengirimkan ais dan buah-buahan
kepada Richard the Lion, musuh ketatnya, ketika Raja
inggeris itu sakit.
Hatinya memang sangat lembut hingga ia sangat mudah
terkesan apabila melihat orang dalam kesusahan dan
kesedihan. Suatu hari seorang perempuan Kristian
datang mengadu kehilangan bayinya. Perempuan itu
menangis dan meraung di depan Salahuddin sambil
menceritakan bayinya dicuri dari khemahnya. Perempuan
itu seterusnya mengatakan ia telah dimaklumkan hanya
Salahuddin sahaja yang boleh mendapatkan bayi itu
kembali. Hatinya tersentuh mendengar cerita perempuan
itu lalu iapun turut menangis. Ia segera memerintah
kan pegawai-pegawainya mencari bayi itu di pasar
hamba-sahaya. Tidak lama kemudian bayi itu telah dapat
dibawa kembali lalu dengan rasa gembira mendoakan
kesejahteraan Salahuddin.
Bahauddin juga mencatatkan Salahuddin sangat kasihan
belas kepada anak-anak yatim. Bila ia terjumpa
anak-anak yatim ia akan menguruskan supaya ada orang
menjadi penjaga anak itu. Kadang-kadang ia sendiri
yang akan menjaga dan membesarkan anak yatim yang
ditemuinya. Ia juga sangat kasihan melihat orang tua
atau yang kurang upaya dan akan memberikan penjagaan
yang khas kepada mereka apabila ia bertemu dengan
orang sedemikian.
Kesungguhan dan Semangat
Ketika mengepung bandar Acre, Bahauddin mencatatkan
bahawa Salahuddin mengidap sakit berat yang
menyebabkan beliau sangat susah untuk bangun. Meskipun
demikian, ia keluar menunggang kudanya untuk memeriksa
angkatan tenteranya. Bahauddin bertanya kepadanya
bagaimana ia boleh menahan sakitnya. Maka Salahuddin
menjawab, "Penyakit akan meninggalkanku
apabila kamu menunggang kuda".
Dalam ketika yang lain ia sebenarnya dalam keadaan
yang lemah akibat sakit tetapi pergi memburu musuh
sepanjang malam. "Apabila ia sakit", kata Bahauddin,
Aku dan doktor akan bersamanya sepanjang malam. Ia
tidak dapat tidur akibat menahan sakit, tetapi apabila
pagi menjelang, ia akan menunggang kuda untuk melawan
musuh. Ia menghantar anak-anaknya ke medan perang
sebelum memerintahkan orang lain berbuat demikian. Aku
dan doktornya bersamanya sepanjang hari menunggang
kuda sehinggalah musuh berundur apabila senja
menjelang. Ia hanya akan kembali ke khemah
selepas memberikan arahan untuk kawalan keselamatan
pada waktu malam".
Dalam kesungguhan, semangat dan ketahanan rasanya
tiada siapa yang boleh menandingi Salahuddin.
Kadang-kadang ia sediri pergi ke kawasan perkhemahan
tentera musuh bersama perisik-perisiknya sekali bahkan
dua
kali sehari. Ketika berperang ia sendiri akan pergi
merempun celah-celah tentera musuh yang sedang mara.
Ia sentiasa mengadakan pemeriksaan ke atas setiap
tenteranya dan memberikan arahan kepada
panglima-panglima tenteranya. Bahauddin ada
mencatatkan satu kisah yang menunjukkan betama
beraninya Salahuddin. Salahuddin diberitahu bahawa ia
selalu mendengar
bacaan hadis pada masa lapang bukannya ketika perang.
Apabila mendengar perakara ini ia segera mengarahkan
supaya hadis-hadis dibacakan kepadanya ketika
peperangan sedang berkecamuk dengan sengitnya.
Salahuddin tidak pernah gentar dengan ramainya tentera
Salib yang datang untuk menentangnya. Dalam bebeerapa
ketika, tentera Salib berjumah sehingga 600,000 orang,
tetapi Salahuddin menghadapinya dengan
tentera yang jauh lebih sedikit. Berkat pertolongan
Allah ia menang, membunuh ramai musuh dan membawa
ramai tawanan. Ketika mengepung Acre, pada satu petang
lebih dari 70 kapal tentera musuh beserta senjata
berat mendarat pada satu petang.
Boleh dikatakan semua orang merasa gentar kecuali
Salahuddin. Dalam satu peperangan yang sengit semasa
kepungan ini, serangan mendadak besar-besaran dari
musuh telah menyebabkan tentera Islam kalang kabut.
Tentera musuh telah merempuh khemah-khemat tentera
Islam bahkan telah sampai ke khamah Salahuddin dan
mencabut benderanya. Tetapi Salahuddin bertahan dengan
teguhnya dan berjaya mengatur tenteranya
kembali sehingga ia berjaya membalikkan kekalahan
menjadi kemenangan. Musuh telah kalah teruk dan
berundur meninggalkan lebih kurang 7,000 mayat-mayat.
Bahauddin ada mencatatkan betapa besarnya cita-cita
Salahuddin. Suatu hari Salahuddin pernah berkata
kepadanya, "Aku hendak beri tahu padamu apa yang ada
dalam hatiku. Apabila Allah mentakdirkan seluruh
tanah suci ini di bawah kekuasaanku, aku akan serahkan
tanah-tanah kekuasaanku ini kepada anak-anakku, ku
berikan arahan-arahanku yang terakhir
lalu ku ucapkan selamat tinggal. Aku akan belayar
untuk menaklukkan pulau-pulau dan tanah-tanah. Aku tak
akan meletakkan senjata ku selagi masih ada
orang-orang kafir di atas muka bumi atau jika ajalku
sampai
Salahuddin sebagai ulama
Salahuddin memiliki asas pengetahuan agama yang kukuh.
Ia juga mengetahui setiap suku-suku kaum Arab dan
adat-adat mereka. Bahkan ia mengetahui sifat-sifat
kuda Arab walaupun ia sebenarnya orang Kurd. Ia
sangat gemar mengumpulkan pengetahuan dan maklumat
dari kawan-kawannya dan utusan-utusannya yang sentiasa
berjalan dari satu penjuru ke satu penjuru negerinya.
Di samping Qur'an ia juga banyak menghafal syair-syair
Arab.
Lane-Poole juga ada menuliskan bahawa Salahuddin
berpengetahuan yang dalam dan gemar untuk mendalami
lagi bidang-bidang akidah, ilmu hadis serta
sanad-sanad dan perawi-perawinya, syariah dan usul
figh dan
juga tafsir Qur'an.
Rujukan :
Bahauddin bin Shaddad. 1234M,632H.
Al-Nawadir-I-Sultania: Sirat Salahuddin (Bin
Nawadir-I-Sultania). Mesir (diterbitkan 1317h):31,
32-33, 7,155
Poole S. L. 1914. Saladin. New York: 72, 99
Note : Salahuddin adalah yang menghidupkan Mawlid Nabi
Muhammad saw,hingga tentara islam terus berjaya.
Wa min Allah at Tawfiq

Jika teman-teman ada tulisan boleh di posting di situs ini.

If someone other than me has written an article, I'll be sure to include a byline at the bottom.

This article contributed by Jane Turner.